SANDAL JEPIT YANG TERHORMAT September 17, 2008
Posted by reriska in ISLAM.trackback
Dari milis nich…………..
Disebuah toko sepatu di kawasan perbelanjaan termewah di sebuah
kota, nampak di etalase sebuah sepatu dengan anggun diterangi oleh
lampu yang indah. Dari tadi dia nampak jumawa dengan posisinya,
sesekali dia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memamerkan kemolekan
designnya, haknya yang tinggi dengan warna coklat tua semakin
menambah kemolekan yang dimilikinya.
Pada saat jam istirahat, seorang pramuniaga yang akan makan siang
meletakkan sepasang sandal jepit tidak jauh dari letak sang sepatu.
“Hai sandal jepit, sial sekali nasib kamu, diciptakan sekali saja
dalam bentuk buruk dan tidak menarik”, sergah sang sepatu dengan
nada congkak.
Sandal jepit hanya terdiam dan melemparkan sebuah senyum
persahabatan.
“Apa menariknya menjadi sandal jepit ?, tidak ada kebanggaan bagi
para pemakainya, tidak pernah mendapatkan tempat penyimpanan yang
istimewa, dan tidak pernah disesali pada saat hilang, kasihan sekali
kamu”, ujar sang sepatu dengan nada yang semakin tinggi dan
bertambah sinis.
Sandal jepit menarik nafas panjang, sambil menatap sang sepatu
dengan tatapan lembut, dia berkata
“Wahai sepatu yang terhormat, mungkin semua orang akan memiliki
kebanggaan jika memakai sepatu yang indah dan mewah sepertimu.
Mereka akan menyimpannya di tempat yang terjaga, membersihkannya
meskipun masih bersih, bahkan sekali-sekali memamerkan kepada sanak
keluarga maupun tetangga yang berkunjung ke rumahnya”. Sandal jepit
berhenti berbicara sejenak dan membiarkan sang sepatu menikmati
pujiannya.
“Tetapi sepatu yang terhormat, kamu hanya menemaninya di didalam
kesemuan, pergi ke kantor maupun ke undangan-undangan pesta untuk
sekedar sebuah kebanggaan. Kamu hanya dipakai sesekali saja. Bedakan
dengan aku. Aku siap menemani kemana saja pemakaiku pergi, bahkan
aku sangat loyal meski dipakai ke toilet ataupun kamar mandi. Aku
memunculkan kerinduan bagi pemakaiku. Setelah dia seharian dalam
cengkeraman keindahanmu, maka manusia akan segera merindukanku.
Karena apa wahai sepatu?. Karena aku memunculkan kenyamanan dan
kelonggaran. Aku tidak membutuhkan perhatian dan perawatan yang
spesial. Dalam kamus kehidupanku, jika kita ingin membuat orang
bahagia maka kita harus menciptakan kenyamanan untuknya”, Sandal
jepit berkata dengan antusias dan membiarkan sang sepatu terpana.
“Sepatu ! Sahabatku yang terhormat, untuk apa kehebatan kalau
sekedar untuk dipamerkan dan menimbulkan efek ketakutan untuk
kehilangan. Untuk apa kepandaian dikeluarkan hanya untuk sekedar
mendapatkan kekaguman.” Sepatu mulai tersihir oleh ucapan sandal
jepit.
“Tapi bukankah menyenangkan jika kita dikagumi banyak orang”, jawab
sepatu mencoba mencari pembenar atas posisinya.
Sandal jepit tersenyum dengan bijak “Sahabatku! ditengah kekaguman
sesungguhnya kita sedang menciptakan tembok pembeda yang tebal,
semakin kita ingin dikagumi maka sesungguhnya kita sedang membangun
temboknya”
Dari pintu toko nampak sang pramuniaga tergesa-gesa mengambil sandal
jepit karena ingin bersegera mengambil air wudhu. Sambil tersenyum
bahagia sandal jepit berbisik kepada sang sepatu
“Lihat sahabatku, bahkan untuk berbuat kebaikanpun manusia
mengajakku dan meninggalkanmu”
Sepatu menatap kepergian sandal jepit ke mushola dengan penuh
kekaguman seraya berbisik perlahan “Terima kasih, engkau telah
memberikan pelajaran yang berharga sahabatku, sandal jepit yang
terhormat”.
Selamat menjalani hari dengan penuh rahmat





Comments»
No comments yet — be the first.